Drainase

Kota Bogor dilewati dua buah sungai yang besar yaitu Sungai Ciliwung di sebelah Timur dan sungai Cisadane di sebelah Barat. Dalam rangka menyelesaikan permasalahan banjir lokal sistem drainase yang ada cenderung untuk langsung mengarahkan pembuangan akhir pada kedua sungai tersebut yang dasar sungainya berada jauh lebih rendah dari dataran kota. Di Kota Bogor sama halnya dengan Kota lain yang mengalami perkembangan, banyak terjadi perubahan fungsi saluran, dari semula saluran irigasi menjadi saluran drainase. Saluran drainase berfungsi membuang air ke badan air tetapi sebaliknya saluran irigasi berfungsi mambawa air ke daerah pertanian, artinya secara karakter fisik luas penampang basah pada saluran irigasi semakin hilir semakin sempit bahkan habis, karena airnya terbagi habis ke sawah-sawah. Meskipun demikian saluran irigasi masih banyak terdapat di Kota Bogor.

Lokasi genangan dan perkiraan luas genangan

Beberapa wilayah di Kota Bogor masuk dalam daerah rawan banjir. Penyebab utama permasalahan yang terkait dengan hal ini dikarenakan kondisi sistem drainase di kota Bogor saat ini, yaitu antara lain :

  • Belum terintegrasinya sistem drainase satu wilayah dengan wilayah lain disekitarnya.
    Karakteristik topografi Kota Bogor sangat variatif, dimana hampir ± 90 % merupakan lahan pedataran dengan kemiringan relatif landai hingga lereng agak curam dengan keterbatasan kapasitas tampung dan laju aliran sistem drainase yang ada.
    Masih terbatasnya prasarana drainase mikro dan tidak berfungsinya sistem drainase yang ada, diindikasikan dengan munculnya areal rawan permasalahan genangan banjir & rawan longsor dengan penyebaran seperti terlihat pada peta zona drainase terlampir. Elevasi dasar saluran drainase pada wilayah bagian Tenggara dan wilayah bagian Utara kota Bogor posisinya lebih rendah terhadap permukaan dasar sungai alami.
  • Meningkatnya intensitas curah hujan
    Karakteristik iklim di Kota Bogor dicirikan dengan angka curah hujan setiap tahunan cukup besar yaitu berkisar antara 3.500 – 5.000 mm, dimana selama perioda meningkatnya angka curah hujan (yaitu antara bulan Desember sampai dengan bulan Januari) seringkali terjadi peningkatan debit limpasan air permukaan.
    Akumulasi debit limpasan permukaan akibat meningkatnya intensitas curah hujan yang berasal dari bagian hulu dan tengah yang langsung terkonsentrasi masuk kedalam areal cekungan atau wadah buangan alami seringkali menimbulkanterjadinya luapan dan genangan banjir pada areal cekungan dan lahan yang elevasinya relatif rendah di bagian hilir.
  • Pendangkalan dan penyempitan jaringan drainase makro.
    Penurunan kapasitas saluran drainase alamiah, umumnya terjadi akibat meningkatnya laju erosi permukaan dan sedimentasi pada alur sungai yang relatif landai sehingga menimbulkan masalah pendangkalan dan penyempitan berlangsung relatif cepat menyebabkan penyusutan penampang alir saluran. Kapasitas prasarana jaringan drainase yang sudah ada umumnya masih kurang berfungsi efektif menampung sementara dan mengalirkan kelebihan air.
    Kondisi demikian juga disebabkan kurangnya efektifnya kegiatan antisipasi O&P jaringan irigasi dan drainase.
  • Berubah fungsi saluran irigasi menjadi saluran drainase
    Perubahan penggunaan lahan yang sangat signifikan dari budidaya kawasan pertanian, menjadi budidaya kawasan perkotaan dan permukiman / perumahan. Seringkali saluran irigasi yang seharusnya dimanfaatkan sebagai penyuplai air pada areal persawahan berubah fungsi menjadi saluran drainase permukiman dan drainase jalan. Karena sistem jaringan irigasi dan drainase tersebut saling terkoneksi, kondisi demikian menyebabkan efektifitas fungsi dan kapasitas pelayanan saluran irigasi dan drainase diwilayah diwilayah Kota dan Kabupaten Bogor menjadi berkurang.
  • Mix Drain,
    Terjadi akibat penyimpangan perilaku pengelolaan sampah dan limbah serta penggunaan lahan yang keliru diperkotaan/ areal pemukiman yang padat penduduk dan pusat kegiatan perdagangan/pasar tradisionil, sehingga membebani kapasitas normal saluran drainase sehingga harus berfungsi sebagai wadah buangan limpasan air hujan maupun limbah domestik dan sampah padat.

Kondisi demikian mendorong terjadinya alih fungsi bangunan-bangunan penyuplai air (seperti pintu air dan saluran irigasi) menjadi saluran drainase sehingga cenderung berdampak pada terjadinya permasalahan semakin menurunnya potensi ketersediaan debit andalan pada sumber air permukaan maupun air tanah, terutama selama perioda berkurangnya curah hujan (musim kemarau). Berikut data genangan yang ada di Kota Bogor.

Tabel Kondisi Wilayah Genangan di Kota Bogor

No

Lokasi Genangan

Wilayah Genangan

Infrastruktur*

Luas

Ketinggian

Lama

Frekuensi

Penyebab***

Jenis

Keterangan**

(Ha)

(M)

(jam /hari)

(kali /tahun)

 

 

1

Kec. Bogor Utara

19

0,3 – 0,4

1-2

>2

Luapan sungai ciparigi, Sungai Ciluar, dan Sungai Cibuluh

Sal. Primer

 

2

Kec. Bogor Timur

2

0,3 – 0,4

1-2

>2

Luapan Sungai Ciliwung

Sal. Primer

 

3

Kec. Bogor Selatan

2

0,3 – 0,4

1-2

>2

Luapan Sungai Cisadane

Sal. Primer

 

4

Kec. Bogor Barat

6

0,3 – 0,4

1-2

>2

Luapan sungai cisadane, Limpasan air permukaan, sal primer dan sal. sekunder

Sal Primer & Sal Sekunder

Dimensi kurang besar

5

Kec. Bogor Tengah

4

0,3 – 0,4

1-2

>2

Luapan sungai cisadane dan sal. ciranjang

Sal Primer

Dimensi kurang besar

6

Kec. Tanah Sereal

19

0,3 – 0,4

1-2

>2

Saluran primer, sekunder, dan tersier

Saluran primer, sekunder, dan tersier

Dimensi kurang besar

*) Infrastruktur dapat terdiri dari saluran drainase (primer dan sekunder) ataupun bangunan pelengkap. Infrastruktur yang terdapat di dalam kawasan genangan.

**) Dapat berupa informasi terkait panjang saluran, kapasitas pompa, luas kolam retensi dll yang terdapat di dalam kawasan genangan

***) Merupakan indikasi penyebab dari timbulnya genangan. Indikasi penyebab dapat berasal dari dalam kawasan atau dapat berasal dari luar kawasan namun masih dalam satu sistem drainase.


Sumber: Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kota Bogor 2015-2020

 

Sistem Drainase

Wilayah Kota Bogor terdiri atas jaringan-jaringan drainase yang rumit (Gambar 2.12). Beberapa di antaranya adalah jaringan saluran drainase yang secara hidrolik berdiri sendiri namun terdapat jaringan saluran drainase yang saling berhubungan satu sama lain. Selain itu masih terdapat pula jaringan irigasi yang mempunyai fungsi berbeda dengan jaringan drainase. Dalam mempermudah penanganan sistem drainase untuk perencanaan dan pengelolaan, maka sistem drainase lokal telah dikelompokkan menjadi 15 Zona Drainase (Gambar 2.15), Pengelompokan didasarkan atas kesamaan daerah dipandang dari sudut topografi, saluran atau sungai pembatas yang ada, dan daerah aliran sungai tertentu sebagai saluran makro dari jaringan drainase. Pembagian Zona Drainase tersebut adalah sebagai berikut:

  • Zona Drainase 1 (Cisindangbarang)
    Zona Drainase 1 terletak di bagian Utara Kota Bogor, tepatnya di Kecamatan Bogor Barat. Zona Drainase 1 terdapat dalam sub DAS Cisindangbarang yang bermuara ke Sungai Cisadane dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane.
  • Zona Drainase 2 (Ciomas)
    Zona Drainase 2 terletak di bagian Barat Kota Bogor, tepatnya di Kecamatan Ciomas. Zona Drainase 2 terdapat dalam sub DAS Ciomas dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane.
  • Zona Drainase 3 (Cisadane Tengah)
    Zona Drainase 3 terletak di bagian Tengah Kota Bogor, tepatnya di sepanjang Sungai Cisadane. Zona Drainase 3 terdapat dalam sub DAS Cisadane dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane.
  • Zona Drainase 4 (Cipinanggading)
    Zona Drainase 4 terletak di bagian barat daya Kota Bogor, tepatnya di daerah aliran Sungai Cipinanggading. Zona Drainase 4 terdapat dalam sub DAS Cisadane dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane.
  • Zona Drainase 5 (Cirancamaya)
    Zona Drainase 5 terletak di bagian Selatan Kota Bogor, tepatnya di bagian hulu daerah aliran Sungai Cisadane. Zona Drainase 5 terdapat dalam sub DAS Cisadane dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane
  • Zona Drainase 6 (Cipaku)
    Zona Drainase 6 terletak di bagian Selatan Kota Bogor, tepatnya di bagian hulu daerah aliran Sungai Cisadane. Zona Drainase 6 terdapat dalam sub DAS Cisadane dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane.
  • Zona Drainase 7 (Cikeumeuh)
    Zona Drainase 7 terletak di bagian Utara Kota Bogor, tepatnya di bagian hulu daerah aliran Cengkareng Flood way. Zona Drainase 7 terdapat dalam sub DAS Cengkareng Flood Way dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane.
  • Zona Drainase 8 (Cikompa)
    Zona Drainase 8 terletak di bagian Utara Kota Bogor, tepatnya di bagian hulu daerah aliran Cengkareng Flood way. Zona Drainase 8 terdapat dalam sub DAS Cengkareng Flood Way dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane.
  • Zona Drainase 9 (Cigede)
    Zona Drainase 9 terletak di bagian Utara Kota Bogor, tepatnya di Kecamatan tanah Sereal. Zona Drainase 9 terdapat dalam sub DAS Cengkareng Flood Way dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane
  • Zona Drainase 10 (Cipakancilan)
    Zona Drainase 10 terletak di bagian Utara Kota Bogor, tepatnya di Kecamatan tanah Sereal. Zona Drainase 10 terdapat dalam sub DAS Cengkareng Flood Way dan masuk dalam Satuan Wilayah Sungai Cisadane.
  • Zona Drainase 11 (Ciliwung Tengah)
    Zona Drainase 11 terletak di sepanjang Sungai Ciliwung Kota Bogor, tepatnya di Kecamatan tanah Sereal dan Bogor Timur. Zona Drainase 11 terdapat dalam Satuan Wilayah Sungai Ciliwung.
  • Zona Drainase 12 (Ciseuseupan)
    Zona Drainase 12 terletak di bagian hulu Sungai Ciliwung, tepatnya di Kecamatan Bogor Timur. Zona Drainase 12 terdapat dalam Satuan Wilayah Sungai Ciliwung.
  • Zona Drainase 13 (Ciparigi)
    Zona Drainase 13 terletak di bagian Utara Kota Bogor. Zona Drainase 13 terdapat dalam Satuan Wilayah Sungai Ciliwung.
  • Zona Drainase 14 (Cibuluh)
    Zona Drainase 14 terletak di bagian Utara Kota Bogor. Zona Drainase 14 terdapat dalam Satuan Wilayah Sungai Ciliwung.
  • Zona Drainase 15 (Ciluar)
    Zona Drainase 15 terletak di bagian Timur Kota Bogor. Zona Drainase 15 terdapat dalam Satuan Wilayah Sungai Ciliwung.

 

Infrastruktur Drainase

Secara umum sistem drainase di Kota Bogor terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu drainase makro dan drainase mikro. Saluran pembuangan makro adalah saluran pembuangan yang secara alami sudah ada di Kota Bogor yang terdiri dari dua sungai besar, yaitu Sungai Ciliwung dan Cisadane yang mengalir dari arah Selatan ke Utara serta beberapa sungai kecil seperti Sungai Cipakancilan, Sungai Cipinanggading, Sungai Ciluar, Sungai Cikalibaru, Sungai Ciheuleut, Sungai Ciapus, Sungai Cisindangbarang, Sungai Cigede Wetan, Sungai Cigede Kulon, Sungai Cileungsir, Sungai Cipalayangan, Sungai Cibeureum, Sungai Cikaret, Sungai Cigenteng, Sungai Cinyangkokot, Sungai Cileuwibangke, Sungai Cipaku dan Sungai Cijeruk. Saluran pembuangan mikro adalah saluran yang sengaja dibuat mengikuti pola jaringan jalan. Pada akhirnya saluran ini bermuara pada saluran makro yang dekat dengan saluran mikro tersebut

  • Saluran
    Dari kerapatan jaringan, saluran di Kota Bogor cukup rapat, bentang Kota Bogor dari barat ke timur kurang lebih 13 km terdapat 137 (seratus tiga puluh tujuh) jalur saluran yang membujur dari selatan ke utara dengan jumlah panjang mencapai ± 268 km. Dari jumlah tersebut, yang masih berkondisi baik secara fisik ± 80 %, akan tetapi secara fungsi hanya saluran yang berada di Kecamatan Bogor Selatan dan Kecamatan Bogor Timur yang masih mampu menampung aliran air, dan kedua kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang posisi geografinya paling tinggi diantara kecamatan-kecamatan lainnya, sedangkan saluran-saluran yang berada di kecamatan lainnya telah dangkal dan sempit sehingga sering terjadi banjir limpasan saat turun hujan.
  • Bangunan Air
    Bangunan air dalam hal ini adalah bangunan yang berfungsi dan sebagai prasarana pengaliran air, antara lain bangunan bendung, bendungan, bangunan bagi, bangunan sadap, bangunan terjun, bangunan pelimpah, gorong-gorong, jembatan, bangunan talang dan lain sebagainya. Secara umum kondisi bangunan air masih berfungsi dengan baik.